Latest Entries »

Protected: my skripstion

This content is password protected. To view it please enter your password below:

ILMU KEALAMAN DASAR


KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah Ilmu Alamiah Dasar yang berjudul “ Alam Fikiran Manusia dan Perkembangannya” ini dapat diselesaikan dengan baik. Makalah ini penulis buat untuk melengkapi tugas IKD.

Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyususnan makalah ini. Dan penulis juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi bahan makalah. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu dosen pembimbing mata kuliah Ilmu Kealaman Dasar, yang telah memberikan arahan serta bimbingannya selama ini sehingga penyusunan makalah dapat dibuat dengan sebaik-baiknya.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah ini.

                                                                Bukittinggi, 22 Agustus 2011

Penulis

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………………….   i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………..   ii

BAB I  PENDAHULUAN

A. Latar Belakang……………………………………………………………………………………….   1

B. Rumusan Masalah…………………………………………………………………………………..   2

C. Tuujuan Penlisan…………………………………………………………………………………….   3

D. Manfaat Penulisan………………………………………………………………………………        3

BAB II  PEMBAHASAN

A. Hakikat Manusia dan Sifat Keingintahuannya……………………………………………   4

B. Perkembangan Fisik, Sifat dan Fikiran Manusia………………………………………….   5

C. Sejarah Pengetahuan Manusia…………………………………………………………………..   8

BAB III  PENUTUP

A. Kesimpulan……………………………………………………………………………………………   10

B. Saran…………………………………………………………………………………………………….   10

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.           Latar Belakang

Ilmu Alamiah Dasar merupakan kumpulan pengetahuan tentang konsep-konsep dasar dalam bidang ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Dan, manusia sebagai subjek pokoknya yang dalam hal ini merupakan makhluk hidup yang paling tinggi kedudukannya. Salah satu indikatornya ialah sifat unik manusia.

Dibandingkan dengan makhluk lain, jasmani manusia adalah lemah, tetapi rohani atau akal budi dan kemauannya sangat kuat. Umumnya dikatakan bahwa manusia dan binatang berbeda karena akal budi yang dimilikinya. Akal bersumber pada otak. Dan, budi bersuber pada jiwa. Oleh karena itu, sejalan dengan perkembangannya menusia memanfaatkan akal budi yang dimilikinya dan juga ditunjang dengan rasa ingin tahu, maka berkembanglah pula ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Perkembangan pengetahuan pun lebih berkembang lagi manakala ditunjang dengan adanya tukar menukar informasi antar manusia.

Pada zaman dahulu akibat dari terbatasnya peralatan untuk memperoleh pengetahuan, maka untuk menjawab keingintahuan tentang alam, manusia pada saat itu menciptakan mitos. Sehingga mitos pun digolongkan menjadi tiga, yaitu mitos sebenarnya, cerita rakyat, dan lagenda. Sehingga terdapat beberapa cara untuk mendapatkan kesimpulan, diantaranya prasangka (perasaaan), intuisi (batiniah), dan coba-ralat/trial error (untung-untungan).

Untuk itu diperlukanlah syarat-syarat tertentu agar suatu ilmu itu dapat sesuai dengan keadaannya bukan dengan prasangka, intuisi, maupun coba-ralat/trial error. Adapun syaratnya, yaitu obyektif, metodik, sistematik, dan universal.

Dan, untuk dapat memenuhi syarat ilmu pengetahuan seperti yang tersebut di atas, maka diperlukanlah metode ilmiah. Metode ilmiah adalah cara atau  prosedur dalam memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Dalam hal ini, metode ilmiah menggabungkan cara berpikir induktif dan cara berpikir deduktif dalam membangun tubuh pengetahuannya.

Cara berpikir deduktif adalah cara berpikir di mana ditarik kesimpulan yang bersifat khusus dari pernyataan yang bersifat umum. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Silogismus tersusun dari dua buah pernyataan (premis mayor/minor) dan sebuah kesimpulan. Cara berpikir induktif terkait dengan pengetahuan rasionalisme. Rasionalisme adalah paham yang berpendapat bahwa rasio adalah sumber kebenaran. Cara berpikir induktif adalah kebalikan dari cara berpikir deduktif. Sehingga, dalam prakteknya diperlukan empirisme, yaitu paham yang berpendapat bahwa fakta yang tertangkap lewat pengalaman manusia merupakan sumber kebenaran.

  1. B.            Rumusan Maslah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di kemukan diatas, maka rumusan masalah yang akan di bahas yaitu

  1. Hakikat manusia dan sifat keingintahuannya.
  2. Bagaimana Perkembangan fisik, sifat dan pikiran manusia?
  3. Sejarah pengetahuan manusia
  4. C.           Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan tentang Alam Fikiran Manusia dan perkembangannya yaitu tentang hakikat manusia dan sifat keingintahuannya, bagaimana perkembangan fisik, sifat dan pikiran manusia, serta sejarah pengetahuan maanusia.

  1. D.           Manfaat penulisan

Hasil penulisan makalah ini diharapkan dapat berguna sebagai:

  1. Penambah pengetahuan dan wawasan tentang Hakikat manusia dan sifat keingintahuannya.
  2. Bahan masukan bagi pembaca tentang Bagaimana Perkembangan fisik, sifat dan pikiran manusia.
  3. Dapat mengetahuai Sejarah pengetahuan manusia.

 


BAB II

PEMBAHASAAN

 

  1. A.           HAKEKAT MANUSIA DAN SIFAT KEINGINTAHUANNYA
  2. 1.         Hakikat Manusia
    1. Kesadaran Diri

Didalam filsafat kontemporer secara hakiki terpusat pada pribadi manusia. Boleh jadi, tanpa situasi historis kita tidak bisa memahami apa dan esensi diri yang sebenarnya. Al Qur’an membuka pintu dunia baru, tentang kesadaran diri secara berurutan sampai kepada kesadaran yang universal. Ungkapan ini tidak terikat oleh suatu aliran tertentu. Saat dimana muncul ketikan dihadapkan persoalan manusia terdorong untuk memikirkan eksistensi. Dimana keberadaannya bagaikan terlempar begitu saja

Hal ini membawa kita kepada penelitian mengenai dasar dari asal usul. Baik dari sisi kebebasan maupun dari sisi tanggung jawab. Hal tersebut akhirnya memunculkan masalah ketuhanan. Apakah Allah itu masuk dalam definisi manusia atau tidak? Apakah eksistensi manusia itu bersifat teosentris ataupun antroposentris? Partisipasi ataupun cukup dalam dirinya sendiri? Ada apakah dengan pernyataan ulama populer “man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu?” (barang siapa tahu akan dirinya, maka ia tahu akan Tuhannya).

Dalam arti yang sebenarnya, kata “eksistensi” berarti data kosmis, sejauh manusia yang terlibat secara aktif di dalamnya. Hubungan erat antara masalah manusia dan masalah ketuhanan, terlihat baik pada mereka yang mengingkari Allah maupun pada mereka yang mengikuti-Nya. Kecenderungan tersebut pada dasarnya merupakan naluri manusia yang tidak bisa dipungkiri dan merupakan fitrah manusia..

  1. 2.         Sifat Keingintahuan Manusia

Rasa ingin tahu, juga merupakan salah satu ciri khas manusia. Ia mempunyai kemampuan untuk berpikir sehingga rasa keingintahuannya tidak tetap sepanjang zaman. Karena apa? Karena manusia akan selalu bertanya apa, bagaimana dan mengapa begitu. Manusia juga mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuan yang baru sehingga menjadi pengetahuan yang lebih baru.

Manusia selalu merasa ingin tahu maka sesuatu yang belum terjawab dikatakan wallahualam, artinya Allah yang lebih mengetahui atau wallahualam bissawab yang artinya Allah mengetahui sebenarnya. Perkembangan lebih lanjut dari rasa ingin tahu manusia ialah untuk memenuhi kebutuhan nonfisik atau kebutuhan alam pikirannya, untuk itu manusia mereka-reka sendiri jawabannya.

  1. B.            PERKEMBANGAN FISIK, SIFAT, PIKIRAN MANUSIA.

Tuhan menciptakan dua makhluk, yang satu bersifat anorganis (benda mati) dan yang lain bersifat organis (makhluk hidup). Benda yang menjadi pengisi bumi tunduk pada hukum alam (deterministis) dan makhluk hidup tunduk pada hukum kehidupan (biologis), tetapi yang jelas ciri-ciri kehidupan manusia sebagai makhluk yang tertinggi, lebih sempurna dari hewan maupun tumbuhan.

Dari sekian banyak ciri-ciri manusia sebagai makhluk hidup, akal budi dan kemauan keras itulah yang merupakan sifat unik manusia.

Rasa ingin tahu, juga merupakan salah satu ciri khas manusia. Ia mempunyai kemampuan untuk berpikir sehingga rasa keingintahuannya tidak tetap sepanjang zaman. Karena apa? Karena manusia akan selalu bertanya apa, bagaimana dan mengapa begitu. Manusia juga mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuan yang baru sehingga menjadi pengetahuan yang lebih baru.

  1. Perkembangan Fisik Manusia

Tubuh manusia berubah mulai sejak berupa sel sederhana yang selanjutnya secara bertahap menjadi manusia yang sempurna. Sel sederhana berasal dari sel kromosom sperma yang identik dengan kromosom sel telur, pada prosesnya akan terjadi kromosom yang tidak homolog yang akan menjadi laki-laki.

Lima minggu setelah terjadi konsepsi, bakal jantung mulai berdenyut yang selanjutnya akan membagi menjadi serambi kiri dan kanan pada minggu ke-9. Sedangkan pada minggu ke-13, janin sudah mulai berbentuk yang ditandai dengan berfungsinya berbagai organ, yang selanjutnya pada usia 18 minggu mulai terasa gerakan dari janin.

Pada usia 32 minggu, janin mulai mempersiapkan diri untuk dilahirkan dengan kepala di bawah makin mendekati lubang kelahiran. Pada saat ini gerakan semakin berkurang. Perkembangan tercepat terjadi pada saat setelah kelahiran sampai remaja.

Perubahan fisik yang sangat nyata, terjadi pada saat pubertas, yang ditandai di antaranya dengan tanda kedewasaan berupa tumbuhnya rambut pada daerah-daerah tertentu dan fungsi organ-organ reproduksi (organ genitalia).

Perkembangan pengetahuan pada manusia sangat dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan semasa anak-anak, berupa bimbingan yang baik oleh orang tua dan lingkungan yang terus akan terbawa sampai dewasa.

Sampai usia 2 tahun, perkembangan kecerdasan sangat cepat, dari belajar, makan, berbicara dan berjalan. Pada usia 2 – 7 tahun rasa ingin tahu akan makin besar. Masa remaja merupakan masa pertentangan dengan dirinya maupun dengan orang dewasa, karena selalu berusaha untuk memposisikan diri sebagai orang dewasa walaupun secara emosional belum memadai. Selanjutnya, setelah usia 30 tahun, mulai dapat mengendalikan diri dan mampu menempatkan diri sebagai individu yang bertanggung jawab.

Manusia berasal dari sel telur ibu dan sel sperma ayah yang bersatu membentuk embrio, kemudian tumbuh menjadi banyak sel serta melakukan diferensiasi dan berkembang menjadi bayi yang dilahirkan ke muka bumi. Bayi manusia tumbuh dan berkembang menjadi anak yang pandai berbicara, membaca, berhitung dan mampu bergerak dengan lincah. Anak tersebut menjadi remaja yang mulai mengalami pubertas, seperti perempuan mulai mensturasi, dan laki-laki mulai memiliki jenggot, kumis, serta membesar suaranya. Selanjutnya masuk masa dewasa yang sudah mampu bekerja dan berumah tangga.

  1. Perkembangan Sifat dan Pikiran Manusia

Sifat ingin tahu manusia berkembang seiring dengan perkembangan umur dan waktu dimana manusia tersebut hidup. Pada zaman pra sejarah manusia hidup dari berburu dan berladang yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, kemudian meningkat menjadi petani dan peternak yang menetap. Sampai pada abad 20 di kenal metode kultur jaringan, dimana memperbanyak tanaman dapat dilakukan dari satu helai daun atau sepotong ranting yang masih muda untuk menghasilkan banyak tanaman. Hal ini disebabkan tanaman memiliki sel bersifat totipoten, dimana satu sel tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang menjadi tumbuhan utuh jika berada pada medium tanam yang sesuai.

Ada dua macam perkembangan alam pikiran manusia, yakni perkembangan alam pikiran manusia sejak dilahirkan sampai akhir hayatnya dan perkembangan alam pikiran manusia, sejak zaman purba hingga dewasa ini.

  1. C.           SEJARAH PENGETAHUAN MANUSIA

Sejarah pengetahuan yang diperoleh manusia Manusia umumnya belajar dari manusia lain dalam mengamati alam sekitar. Semula manusia memperoleh pengetahuan berdasarkan intuisi (bisikan hati), seperti lalat berasal dari sampah. Pengetahuan dapat pula berdasarkan firasat, seperti mendung pertanda akan hujan. Pengetahuan berdasar mitos, seperti pelangi adalah selendang bidadari. Selanjutnya manusia mulai mencoba, seperti memperbanyak tanaman dengan biji dan sebagainya.

Manusia selalu merasa ingin tahu maka sesuatu yang belum terjawab dikatakan wallahualam, artinya Allah yang lebih mengetahui atau wallahualam bissawab yang artinya Allah mengetahui sebenarnya. Perkembangan lebih lanjut dari rasa ingin tahu manusia ialah untuk memenuhi kebutuhan nonfisik atau kebutuhan alam pikirannya, untuk itu manusia mereka-reka sendiri jawabannya. A. Comte menyatakan bahwa ada tiga tahap sejarah perkembangan manusia, yaitu tahap teologi (tahap metafisika), tahap filsafat dan tahap positif (tahap ilmu). Mitos termasuk tahap teologi atau tahap metafisika. Mitologi ialah pengetahuan tentang mitos yang merupakan kumpulan cerita-cerita mitos. Cerita mitos sendiri ditularkan lewat tari-tarian, nyanyian, wayang dan lain-lain.

Secara garis besar, mitos dibedakan atas tiga macam, yaitu mitos sebenarnya, cerita rakyat dan legenda. Mitos timbul akibat keterbatasan pengetahuan, penalaran dan panca indera manusia serta keingintahuan manusia yang telah dipenuhi walaupun hanya sementara. Puncak hasil pemikiran mitos terjadi pada zaman Babylonia (700-600 SM) yaitu horoskop (ramalan bintang), ekliptika (bidang edar Matahari) dan bentuk alam semesta yang menyerupai ruangan setengah bola dengan bumi datar sebagai lantainya sedangkan langit-langit dan bintangnya merupakan atap. Tonggak sejarah pengamatan, pengalaman dan akal sehat manusia ialah Thales (624-546) seorang astronom, pakar di bidang matematika dan teknik. Ia berpendapat bahwa bintang mengeluarkan cahaya, bulan hanya memantulkan sinar matahari, dan lain-lain. Setelah itu muncul tokoh-tokoh perubahan lainnya seperti Anaximander, Anaximenes, Herakleitos, Pythagoras dan sebagainya.

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk yang berfikir (Homo sapiens). Hal ini disebabkan sifat ingin tahu manusia yang besar, selalu bertanya tentang siapa, apa, bagaimana, kapan, dimana dsb. Tuhan memberi manusia kemampuan berbicara (Homo languens) hingga mampu menyampaikan pertanyaan dan pendapatnya kepada manusia lain. Manusia juga mampu membuat alat (Homo faber) yang dapat membantunya mencari nafkah, seperti kemampuan manusia membuat jaring ikan, panah untuk berburu, pisau, api untuk memasak dsb. Manusia memiliki rasa keindahan akan sesuatu(Homo aesteticus) sehingga munculah para perancang bangunan, model pakaian, adat istiadat suatu daerah dsb. Manusia juga mampu melakukan jual beli (Homo economicus) seperti yang terjadi di pasar manusia melakukan jual beli terhadap hasil kerjanya. Manusia diberi kelebihan dalam segala hal dibanding makhluk lain. Manusia adalah makhluk religius, yang percaya akan adanya Tuhan yang maha adil.

  1. B.     Saran

Saran yang bersifat membangun selalu penulis harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini. Bagi para pembaca dan rekan-rekan lainnya, jika ingin menambah wawasan dan ingin mengetahui lebih jauh maka penulis mengharapkan dengan rendah hati agar membaca buku-buki ilmiah dan buku-buku ilmu alamiah dasar lainnya yang berkaitan dengan judul ALAM FIKIRAN MANUSA DAN SIFAT KEINGINTAHUANNYA.

DAFTAR PUSTAKA

Darmo, Hendro dan  Yeni Kaligis.2004. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta : Universitas Terbuka

Hudiyono, Sumi. 2004. Alam Pikiran Manusia dan Perkembangannya. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Jasin, Maskoeri. 2006. Ilmu Alamiah Dasar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

http://www.ask.com/web?q=jurnal%2Cilmu+alamiah+dasar.alam+pikiran+manusia+dan+perkembangannya&qsrc=19&o=101786&l=dis

 

Assesmen

Konsep Dasar Assesmen Pembelajaran

A.        Pengertian Assesmen pembelajaran, evaluasi, pengukuran dan tes

1.        Pengertian Assesment

Asesmen merupakan penilaian  proses dan hasil belajar siswa serta kemajuan belajarnya.

Penilaian (assessment) dalam Akhmad Sudrajat (2008), adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut

Menurut Linn dan Gronlund, assessment adalah istilah umum yang melibatkan semua rangkaian prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang hasil belajar siswa atau peserta didik (misalnya: observasi, skala bertingkat tentang kinerja, tes tertulis) dan pelaksanan penilaian mengenai kemajuan belajar siswa (peserta didik).

Nana Sudjana (1989: 220), penilaian adalah proses untuk menentukan nilai dari suatu obyek atau peristiwa dalam suatu konteks situasi tertentu, dimana proses penentuan nilai berlangsung dalam bentuk interpretasi yang kemudian diakhiri dengan suatu “judgment“.

assessment merupakan istilah yang umum dan mencakup semua metode yang biasa dipakai untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa dengan cara menilai unjuk kerja individu peserta didik atau kelompok.

2.        Pengertian evaluasi

Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak berharga, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi juga dapat diartikan sebagai suatu proses penilaian untuk mengambil keputusan yang menggunakan seperangkat hasil pengukuran dan berpatokan kepada tujuan yang telah dirumuskan.

Untuk memperjelas pengertian evaluasi tersebut ada baiknya bila dikutip beberapa perumusan sebagai berikut:
a. Adams (1964) dalam bukunya “Measurement and evaluation in education, psychology, and guidance” menjelaskan bahwa kita mengukur berbagai kemampuan anak didik.Bila kita melangkah lebih jauh lagi dalam menginterprestasi skor sebagai hasil pengukuran itu dengan menggunakan standar tertentu untuk menentukan nilai dalam suatu kerangka maksud pendidikan dan pelatihannya atau atas dasar beberapa pertimbangan lain untuk membuat penilaian, maka kita tidak lagi membatasi diri kita dalam pengukuran, kita sekarang telah mengevaluasi kemampuan atau kemajuan anak didik.
b. Daniel L. Stufflebeam dan Anthony J. Shinkfield (1985) secara singkat merumuskan evaluasi sebagai berikut: “Evaluation is the systematic assessment of the worth or merit of some object”. Dengan demikian maka evaluasi antara lain merupakan kegiatan membandingkan tujuan dengan hasil dan juga merupakan studi yang mengkombinasikan penampilan dengan suatu nilai tertentu.
c. Robert L. Thorndike dan Elizabeth Hagen (1961) menjelaskan evaluasi tersebut dengan mengatakan bahwa evaluasi itu berhubungan dengan pengukuran. Dalam beberapa hal evaluasi lebih luas, karena dalam evaluasi juga termasuk penilaian formal dan penilaian intuitif mengenai kemajuan peserta didik. Evaluasi juga mencakup penilaian tentang apa yang baik dan apa yang diharapkan. Dengan demikian hasil pengukuran yang benar merupakan dasar yang kokoh untuk melakukan evaluasi.

Secara garis besar evaluasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif (istilah ini pertama kali digunakan oleh Scriven (1967) dalam artikelnya berjudul “The Methodology of evaluation”). Evaluasi formatif dilakukan dengan maksud memantau sejauh manakah suatu proses pendidikan telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Sedangkan evaluasi sumatif dilakukan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit pengajaran ke unit berikutnya.

Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai (value judgement). Stufflebeam (Abin Syamsuddin Makmun, 1996) mengemukakan bahwa: educational evaluation is the process of delineating, obtaining, and providing useful, information for judging decision alternatif . Dari pandangan Stufflebeam, kita dapat melihat bahwa esensi dari evaluasi yakni memberikan informasi bagi kepentingan pengambilan keputusan. Di bidang pendidikan, kita dapat melakukan evaluasi terhadap kurikulum baru, suatu kebijakan pendidikan, sumber belajar tertentu, atau etos kerja guru.

3.        Pengertian pengukuran

Tes dapat didefinisikan sebagai suatu pernyataan atau tugas atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang trait (sifat) atau atribut pendidikan atau psikologik yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar.

Tes dapat diklasifikasi berdasarkan :
a. Bagaimana ia diadministrasikan (tes individual atau kelompok)
b. Bagaimana ia diskor (tes obyektif atau tes subyektif)
c. Respon apa yang ditekankan (tes kecepatan atau tes kemampuan)
d. Tipe respon yang bagaimana yang harus dikerjakan oleh subyek (tes unjuk kerja atau tes kertas dan pensil)
e. Apa yang akan diukur (tes sampel atau tes sign)
f. Hakekat dari kelompok yang akan diperbandingkan (tes buatan guru atau tes baku)

Pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh diskripsi numeric dari suatu tingkatan dimana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.

Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dlam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.

Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil peserta didik atau ketercapain kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik.

Pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh diskripsi numeric dari suatu tingkatan dimana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.

Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dlam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.

Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil peserta didik atau ketercapain kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik.

4.        Pengertian tes

5.      Pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh diskripsi numeric dari suatu tingkatan dimana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.

6.      Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dlam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.

7.      Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil peserta didik atau ketercapain kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik.

8.      Pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh diskripsi numeric dari suatu tingkatan dimana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.

9.      Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dlam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.

10.  Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil peserta didik atau ketercapain kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik.

11.  Pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh diskripsi numeric dari suatu tingkatan dimana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.

12.  Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dlam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.

13.  Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil peserta didik atau ketercapain kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik.

B.        Kaitan antara tes, pengukuran, penialaian dan assesmen

Sebenarnya proses pengukuran, penilaian, evaluasi dan pengujian merupakan suatu kegiatan atau proses yang bersifat hirarkis. Artinya kegiatan dilakukan secara berurutan dan berjenjang yaitu dimulai dari proses pengukuran kemudian penilaian dan terakhir evaluasi. Sedangkan proses pengujian merupakan bagian dari pengukuran yang dilanjutkan dengan kegiatan penilaian.
Ada beberapa alasan untuk menggunakan pengukuran, tes, dan evaluasi dalam pendidikan, antara lain :

a. Seleksi
Tes dan beberapa alat pengukuran digunakan untuk mengambil keputusan tentang orang yang akan diterima atau ditolak dalam suatu proses seleksi. Untuk dapat memutuskan penerimaan atau penolakan ini maka haruslah digunakan tes yang tepat, yaitu tes yang dapat meramalkan keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam suatu kegiatan tertentu pada masa yang akan datang dengan resiko yang terendah. Tes jenis ini sangat umum dalam masyarakat kita, karena hampir selalu terjadi peminat untuk pekerjaan atau pendidikan jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan. Dilihat dari segi ini, maka acapkali tes seleksi yang dilakukan hanya sekedar untuk memisahkan orang yang akan diterima dari orang yang akan ditolak. Bukan untuk memperoleh calon yang paling besar kemungkinan berhasil dalam pekerjaan atau program yang akan dilakukan.

b. Penempatan
Dalam kursus atau latihan yang singkat biasanya dilakukan tes penempatan, untuk menentukan tempat yang paling cocok bagi seseorang untuk dapat berprestasi dan berproduksi secara efisien dalam suatu proses pendidikan atau pekerjaan. Tes seperti ini terutama didasarkan pada informasi tentang apa yang telah dan apa yang belum dikuasai oleh seseorang.

c. Diagnosis dan remedial
Tes seperti ini terutama untuk mengukur kekuatan dan kelemahan seseorang dalam kerangka memperbaiki penguasaan atau kemampuan dalam suatu program pendidikan tertentu. Jadi sebelum dilakukan remedial, maka seharusnya didahului oleh suatu tes diagnosis.

d. Umpan balik
Hasil suatu pengukuran atau skor tes tertentu dapat digunakan sebagai umpan balik, baik bagi individu yang menempuh tes maupun bagi guru atau instruktur yang berusaha mentransfer kemampuan kepada peserta didik. Suatu skor tes dapat digunakan sebagai umpan balik, bila telah diinterpretasi. Setidak-tidaknya ada dua cara menginterpretasi skor tes, yaitu dengan membandingkan skor seseorang dengan kelompoknya dan dengan melihat kedudukan skor yang diperoleh seseorang dengan kriteria yang ditentukan sebelum tes dimulai. Untuk yang pertama dinamakan “norm reference test” dan yang kedua dinamakan “criterion reference test”.

e. Memotivasi dan membimbing belajar
Hasil tes seharusnya dapat memotivasi belajar peserta didik, dan juga dapat menjadi pembimbingan bagi mereka untuk belajar. Bagi mereka yang memperoleh skor yang rendah seharusnya menjadi cambuk untuk lebih berhasil dalam tes yang akan datang dan secara tepat dapat mengetahui diwilayah mana terletak kelemahannya. Dan bagi mereka yang mendapat skor yang tinggi tentu saja hasil itu dapat menjadi motivasi mempertahankan dan maningkatkan hasilnya, serta dapat menjadi pedoman dalam mempelajari bahan pengayaan.

f. Perbaikan kurikulum dan program pendidikan
Salah satu peran yang penting evaluasi pendidikan ialah mencari dasar yang kokoh bagi perbaikan kurikulum dan program pendidikan. Perbaikan kurikulum atau program pendidikan yang dilakukan tanpa hasil evaluasi yang sistematik acapkali menjadi usaha sia-sia yang mubajir.

g. Pengembangan ilmu
Hasil pengukuran, tes, dan evaluasi tentu saja akan dapat member sumbangan yang berarti bagi perkembangan teori dan dasar pendidikan. Ilmu seperti pengukuran pendidikan dan psikometrik sangat tergantung pada hasil-hasil pengukuran, tes, dan evaluasi yang dilakukan sebagai kegiatan sehari-hari guru dan pendidik. Dari hasil itu akan diperoleh pengetahuan emperik yang sangat berharga untuk pengembangan ilmu dan teori.

Secara umum orang hanya mengidentikkan kegiatan evaluasi sama dengan menilai, karena aktifitas mengukur sudah termasuk didalamnya. Pengukuran, penilaian dan evaluasi merupakan kegiatan yang bersifat hierarki. Artinya ketiga kegiatan tersebut dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan.

Konsep Evaluasi

Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983). Menurut Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai “The process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives”. Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.

Evaluasi adalah kegiatan mengukur dan menilai. Mengukur lebih besifat kuantitatif, sedangkan menilai lebih bersifat kualitatif.

Viviane dan Gilbert de Lansheere (1984) menyatakan bahwa evaluasi adalah proses penentuan apakah materi dan metode pembelajaran telah sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Penentuannya bisa dilakukan salah satunya dengan cara pemberian tes kepada pembelajar. Terlihat disana bahwa acuan tes adalah tujuan pembelajaran.

Konsep Penilaian

Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.

Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai.

Konsep Pengukuran

Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga dapat diperluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti tingkat ketidakpastian, atau kepercayaan konsumen.

Pengukuran adalah proses pemberian angka-angka atau label kepada unit analisis untuk merepresentasikan atribut-atribut konsep. Proses ini seharusnya cukup dimengerti orang walau misalnya definisinya tidak dimengerti. Hal ini karena antara lain kita sering kali melakukan pengukuran.

C.         Tujuan dan peran assessment dalam pembelajaran

Tujuan utama penggunaan asesmen dalam pembelajaran (classroom assessment) adalah membantu guru dan siswa dalam mengambil keputusan propesional untuk memperbaiki pembelajaran. Menurut Popham (1995:4-13) asesmen bertujuan untuk antara lain untuk:

(1) mendiagnosa kelebihan dan kelemahan siswa dalam belajar,
(2) memonitor kemajuan siswa,
(3) menentukan jenjang kemampuan siswa,
(4) menentukan efektivitas pembelajaran,
(5) mempengaruhi persepsi publik tentang efektivitas pembelajaran,
(6) mengevaluasi kinerja guru kelas,
(7) mengklarifikasi tujuan pembelajaran yang dirancang guru

Setiap penggunaan asesmen alternatif bentuk apapun dicirikan oleh hal-hal berikut: (1) menuntut siswa untuk merancang, membuat, menghasil-kan, mengunjukkan atau melakukan sesuatu;
(2) memberi peluang untuk terjadinya berpikir kompleks dan/atau memecahkan masalah;
(3) meng-gunakan kegiatan-kegiatan yang bermakna secara instruksional;
(4) menun-tut penerapan yang autentik pada dunia nyata;
(5) pensekoran lebih di-dasarkan pada pertimbangan manusia yang terlatih daripada mengandalkan mesin. Untuk memperoleh asesmen dengan standar tinggi, maka peng-gunaan asesmen harus: relevan dengan standar atau kebutuhan hasil belajar siswa; adil bagi semua siswa; akurat dalam pengukuran; berguna; layak dan dapat dipercaya. (Herman,1997:198)

Agar penggunaan asesmen dalam kelas sesuai dengan pembelajaran dan dapat meningkatkan pembelajaran tersebut Cottel (1991) menggagaskan 5 petujuk bagi guru penggunaan asesmen dalam kelas. Kelima petunjuk tersebut adalah: pertama, senantiasa menganggap bahwa pembelajaran terus berlangsung; kedua, selalu meminta siswa untuk menunjukkan bukti-bukti bagaimana mereka belajar; ketiga, memberi siswa umpan balik tentang re-spon kelas serta rencana pengajar tentang respon tersebut; keempat, melaku-kan penyesuaian-penyesuaian yang tepat untuk meningkatkan pembela-jaran; dan kelima, menilai ulang bagaimana penyesuaian-penyesuaian terse-but bekerja cukup baik.

Peranan assessment

1. Peran guru

Sebagian besar tanggung jawab dalam menerapkan standar penilaian terletak pada tangan guru yang menjadi pelaksana digaris depan. Oleh karena itu, guru perlu memahami dengan baik standar yang ada, memahami pentingnya penilaian yang berkelanjutan, dan perlu mengetahui posisi strategis mereka, sehingga guru mampu meningkatkan praktik penilaian dalam kelas, merencanakan kurikulum, mengembangkan potensi diri siswa, laporan kemajuan dan perkembangan siswa, dan memahami cara pengajaran mereka sendiri.

Peranan guru dalam penilaian lebih efektif jika mampu memanfaatkan informasi hasil penilaian melalui umpan balik. Umpan balik merupakan sarana bagi guru dan siswa untuk mengetahui sejauh mana kemajuan pembelajaran yang telah dilakukan. Seperti yang dikemukakan dalam QCA (2003) yang mengatakan bahwa feedback is the means by which teacher enable children to close the gap in order to take learning forward and improve children’s performance, berdasarkan definisi tersebut, tampak bahwa umpan balik merupakan suatu alat yang dapat digunakan oleh guru, yang memungkinkan siswa dapat belajar lebih baik dan meningkatkan kinerjanya.

Croks (2001) menyimpulkan dari hasil reviuw literatur tentang umpan balik dan hubungannya dengan motivasi siswa menyimpulkan bahwa manfaat umpan balik agar dapat memotivasi siswa, maka harus fokus pada:

a. Kualitas kerja anak-anak, dan bukan pada membandingkan dengan anak-anak lain.

b. Cara-cara spesifik dimana pekerjaan anak dapat ditingkatkan

c. Peningkatan pekerjaan anak harus dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya.

Dalam merencanakan dan memberikan umpan balik terhadap pekerjaan siswa, Clarke (2003) menyarankan 6 prinsip yaitu:

a. Umpan balik harus fokus pada tugas-tugas tujuan pembelajaran dan bukan membandingkan dengan anak yang lain.

b. Bahasa yang verbal dan non verbal dari guru, memberikan pesan yang baik pada anak tentang kemampuan mereka.

c. Penilaian setiap bagian pekerjaan mengarah pada penurunan moril bagi yang mencapai prestasi rendah dan kepuasan bagi prestasi yang tinggi.

d. Penghargaan eksternal sama seperti grades.

e. Perlu memberikan umpan balik spesifik yang fokus pada kesuksesan dan peningkatan dari pada mengoreksi.

f. Anak-anak perlu kesempatan untuk membuat peningkatan atas pekerjaan mereka.

Prinsip yang dikemukakan oleh Clarke tersebut, memberikan penekanan bahwa dalam memberikan umpan balik, seorang guru harus fokus pada kualitas pekerjaan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Di samping itu, guru perlu menghindari membandingkan siswa satu dengan yang lainnya, karena hal tersebut dapat menurunkan dorongan, motivasi, dan minat bagi siswa yang memperoleh nilai rendah.

Hargreaves, McCallum dan Gipps (Clarke, 2003) dalam penelitian tentang strategi yang digunakan oleh guru dalam memberikan umpan balik, menemukan dua strategi yaitu strategi approval dan disapproval. Strategi non-verbal untuk menyatakan approval meliputi guru mengangguk, kontak mata, tersenyum, tertawa, meletakan suatu lengan tangan di sekitar atau menepuk anak dan menerima suatu cara lembut untuk dapat dicapai. Sedangkan strategi non-verbal untuk menyatakan disapproval meliputi memalingkan muka, menatap dengan tajam, clicking, fingers or making disapproval noises.

Catatan akhir yang menekankan kompleksitas pemberian umpan balik didapatkan dari penelitian yang dikutip sebelumnya dalam buku ini, yang mendapati bahwa pemberian pujian saja tidak akan meningkatkan prestasi. Umpan balik yang efektif adalah yang ditujukan untuk meningkatkan prestasi, yang nantinya akan membantu rasa percaya diri. Upaya meningkatkan kepercayaan diri dan harapan bahwaini akan meningkatkan prestasi, tidak akan begitu berhasil.

Boud (1995), memberikan panduan bagi guru dalam memberikan umpan balik pada siswa yaitu :

1. Realistik

2. Spesifik

3. Sensitif terhadap tujuan yang bersangkutan

4. Tepat waktu

5. Jelas

6. Tidak menghakimi

7. Tidak membanding membandingkan

8. Tekun

9. Terus terang

10. Positif

11. Hati–hati

Untuk dapat memaksimalkan peranannya guru dituntut memiliki profesional yang

tinggi. Ada lima hal yang harus dimiliki oleh guru agar dapat dikatakan profesional yaitu:

1. Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya

2. Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkannya pada siswa

3. Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi

4. Guru mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya

5. Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesi

Sebagai kesimpulan dari uraian yang diatas, setidaknya ada lima hal peranan dalam penilaian, yaitu guru sebagi mentor, petunjuk jalan, akuntan, reporter, dan direktur program. Kelima hal tersebut dikaitkan dengan tujuan penilaian dapat dielaborasi dalam seperti yang di rangkum pada Tabel 3.1

Tabel. 3.1.

Peranan Guru dan Tujuannya dalam penilaian

Peranan Tujuan
Guru sebagai monitoring Memberikan umpan balik dan bantuan kepada setiap siswa
Guru sebagai petunjuk jalan Mengumpulkan informasi untuk diagnostik kelompok siswa melalui pekerjaan yang telah dikerjakan.
Guru sebagai akuntan Memperbaiki dan memelihara catatan prestasi dan kemajuan siswa
Guru sebagai reporter Melaporkan pada orang tua, siswa, dan pengurus sekolah tentang prestasi dan kemajuan siswa
Guru sebagai direktur program Membuat keputusan dan revisi praktik pengajaran

2. Peranan Siswa

Keikutsertaan siswa di dalam proses penilaian menjadi penting apabila standar yang digunakan biasa diwujudkan untuk semua siswa. Brown (1994) menekankan unsur strategis agar senantiasa sadar akan kekuatan dan kelemahan dengan mengatakan bahwa “para siswa berhasil menjalankan yang terbaik apabila mereka memiliki pemahaman yang mendalam akan kelebihan dan kelemahan mereka sendiri dan akses dalam menyusun strategi untuk belajar”.

Mengambil bagian dalam penilaian berarti memberikan peluang kepada para siswa untuk merefleksikan apa yang mereka pelajari dengan membuat rangkaian yang jelas dalam isi dan pikiran. Sehingga diharapkan mereka menemukan sendiri kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam menetapkan tahapan belajar selanjutnya yang lebih baik.

Dalam suatu percobaan di dua kelas ilmu sains suatu sekolah menengah di Amerika, White dan Frederiksen (1998) melaporkan bahwa terjadi peningkatan prestasi siswa dalam kelas, dimana dikembangkan kemampuan berpikir melalui penilaian diri. Penilaian diri merupakan sarana bagi guru untuk memberikan tanggung jawab kepada siswa untuk belajar dari apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang akan mereka kerjakan.

Rudd dan Gunstone (1993) mengidentifikasi beberapa keuntungan yang diperoleh dengan perlibatan siswa dalam proses penilaian diri yaitu:

  • · Mengembangkan kemampuan siswa untuk merencanakan dan berpikir menyeluruh menyangkut hasil dan ketrampilan mereka
  • · Menciptakan kesadaran siswa akan pentingnya menilai pekerjaan mereka sendiri
  • · Mengembangkan kemampuan siswa untuk saling mengevaluasi penilaian diri satu sama lain asalkan kritik membangun
  • · Mengembangkan kemampuan siswa dalam mengatur sumber daya dan waktu secara lebih efektif.

3. Peranan sekolah

Sekolah merupakan pusat kegiatan belajar-mengajar dalam proses pendidikan. Baik buruknya kualitas pendidikan dapat dilihat dari tingkat kualitas sekolah. Sekolah merupakan induk kegiatan pembelajaran yang secara otomatis merupakan induk kegiatan penilaian.

Sekolah sebagai suatu institusi yang menaungi semua aktivitas belajar-mengajar, memiliki peranan yang sangat besar dalam upaya melakukan reformasi penilaian, yang memihak pada bagaimana para siswa dapat memperoleh nilai tambah dalam proses pendidikan.

Peran sekolah menciptakan suatu kondisi (kultur) yang kondusif sehingga kegiatan penilaian dapat berjalan sesuai dengan fungsi dan tujuannya.

Peranan sekolah dalam upaya membentuk siswa menjadi manusia yang berkualitas melalui penilaian digambarkan secara gambling oleh Stenberg, (1996), yang mengatakan:

…sekolah mempengaruhi intelegensi dengan beberapa cara, yang paling terkenal yaitu dengan penyampaian informasi…

Sejalan dengan pendapat Stenberg tersebut, Wedeen Winter, dan Broadfoot, (2002), melaporkan bahwa sekolah merupakan tempat dimana para siswa diarahkan agar dapat meningkatkan kualitas belajar mereka, dengan mengatakan: “mempromosikan pembelajaran anak-anak merupakan tujuan utama sekolah. Penilaian merupakan jantung dari proses tersebut. Proses tersebut dapat menyediakan lingkup kerja dimana tujuan pendidikan dapat dibentuk dan kemudian para murid dapat ditabelkan dan dinyatakan. Hasil pemantauan tersebut dapat menghasilkan suatu dasar untuk merencanakan langkah selanjutnya dalam merespon kebutuhan anak-anak. Hal tersebut menjada satu-kesatuan dari proses pendidikan, secara terus menerus menyediakan ‘feedback and feed foorward’. Oleh karena itu, hal tersebut perlu disatukan secara sistematis dengan strategi dan praktik mengajar pada semua tingkat”

D.        Hubungan penilaian dengan pembelajaran

Penilaian memilki peran yang sangat penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran, oleh karena itu perlu dirancang dan didesain sedemikian rupa sehingga penilain tersebut memberikan makna bagi setiap orang yang terlibat didalamnya. Setidaknya ada 3 hal yang perlu diperhatikan sehingga penilaian menjadi bermakna yaitu ketika penilaian:

1. Memilki ciri secara signifikan

2. Memilki kriteria, prosedur, dan rubrik yang jelas dan dipahami oleh semua pemangku kepentingan (stakeholder)

3. Memberikan hasil-hasil yang menyediakan arah/ petunjuk yang jelas untuk peningkatan kualitas pengajaran dan belajar.

A. Perlunya Standar Penilaian

Dapatkah penilaian meningkatkan standar? Jawaban singkat dari pertanyaan ini adalah ya, dapat. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara signifikan menggunakan penilaian untuk belajar (assessment for learning) lebih efektif bagi guru dalam memperbaiki kualitas pembelajaran. Penilaian juga harus berperan sebagai suatu sarana untuk meningkatkan kualitas belajar setiap siswa. Adapun suatu kejelasan dan hubungan tak terpisahkan antara penilaian, kurikulum, dan pembelajaran.

Darling Hammond (1994) berpendapat bahwa usaha untuk menaikan standar pelajaran dan prestasi harus bertolak pada perubahan strategi penilaian. Kemudian pernyataan tersebut diperkuat kembali oleh Wedeen, Winter, dan Broad Fott (2002) bahwa penggunaan penilaian dalam pembelajaran secara signifikan lebih efektif bagi guru dalam memperbaikai kualitas pembelajaran.

Agar penilaian berfungsi dengan baik, maka sangat perlu untuk meletakan standar, yang akan menjadi dasar dan pijakan bagi guru dan praktisi pendidikan dalam melakukan kegiatan penilaian. Oleh karena itu, ada beberapa pihak yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan kegiatan ini, yaitu:

1. Peran guru

Sebagian besar tanggung jawab dalam menerapkan standar penilaian terletak pada tangan guru yang menjadi pelaksana digaris depan. Oleh karena itu, guru perlu memahami dengan baik standar yang ada, memahami pentingnya penilaian yang berkelanjutan, dan perlu mengetahui posisi strategis mereka, sehingga guru mampu meningkatkan praktik penilaian dalam kelas, merencanakan kurikulum, mengembangkan potensi diri siswa, laporan kemajuan dan perkembangan siswa, dan memahami cara pengajaran mereka sendiri.

Peranan guru dalam penilaian lebih efektif jika mampu memanfaatkan informasi hasil penilaian melalui umpan balik. Umpan balik merupakan sarana bagi guru dan siswa untuk mengetahui sejauh mana kemajuan pembelajaran yang telah dilakukan. Seperti yang dikemukakan dalam QCA (2003) yang mengatakan bahwa feedback is the means by which teacher enable children to close the gap in order to take learning forward and improve children’s performance, berdasarkan definisi tersebut, tampak bahwa umpan balik merupakan suatu alat yang dapat digunakan oleh guru, yang memungkinkan siswa dapat belajar lebih baik dan meningkatkan kinerjanya.

Croks (2001) menyimpulkan dari hasil reviuw literatur tentang umpan balik dan hubungannya dengan motivasi siswa menyimpulkan bahwa manfaat umpan balik agar dapat memotivasi siswa, maka harus fokus pada:

a. Kualitas kerja anak-anak, dan bukan pada membandingkan dengan anak-anak lain.

b. Cara-cara spesifik dimana pekerjaan anak dapat ditingkatkan

c. Peningkatan pekerjaan anak harus dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya.

Dalam merencanakan dan memberikan umpan balik terhadap pekerjaan siswa, Clarke (2003) menyarankan 6 prinsip yaitu:

a. Umpan balik harus fokus pada tugas-tugas tujuan pembelajaran dan bukan membandingkan dengan anak yang lain.

b. Bahasa yang verbal dan non verbal dari guru, memberikan pesan yang baik pada anak tentang kemampuan mereka.

c. Penilaian setiap bagian pekerjaan mengarah pada penurunan moril bagi yang mencapai prestasi rendah dan kepuasan bagi prestasi yang tinggi.

d. Penghargaan eksternal sama seperti grades.

e. Perlu memberikan umpan balik spesifik yang fokus pada kesuksesan dan peningkatan dari pada mengoreksi.

f. Anak-anak perlu kesempatan untuk membuat peningkatan atas pekerjaan mereka.

Prinsip yang dikemukakan oleh Clarke tersebut, memberikan penekanan bahwa dalam memberikan umpan balik, seorang guru harus fokus pada kualitas pekerjaan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Di samping itu, guru perlu menghindari membandingkan siswa satu dengan yang lainnya, karena hal tersebut dapat menurunkan dorongan, motivasi, dan minat bagi siswa yang memperoleh nilai rendah.

Hargreaves, McCallum dan Gipps (Clarke, 2003) dalam penelitian tentang strategi yang digunakan oleh guru dalam memberikan umpan balik, menemukan dua strategi yaitu strategi approval dan disapproval. Strategi non-verbal untuk menyatakan approval meliputi guru mengangguk, kontak mata, tersenyum, tertawa, meletakan suatu lengan tangan di sekitar atau menepuk anak dan menerima suatu cara lembut untuk dapat dicapai. Sedangkan strategi non-verbal untuk menyatakan disapproval meliputi memalingkan muka, menatap dengan tajam, clicking, fingers or making disapproval noises.

Catatan akhir yang menekankan kompleksitas pemberian umpan balik didapatkan dari penelitian yang dikutip sebelumnya dalam buku ini, yang mendapati bahwa pemberian pujian saja tidak akan meningkatkan prestasi. Umpan balik yang efektif adalah yang ditujukan untuk meningkatkan prestasi, yang nantinya akan membantu rasa percaya diri. Upaya meningkatkan kepercayaan diri dan harapan bahwaini akan meningkatkan prestasi, tidak akan begitu berhasil.

Boud (1995), memberikan panduan bagi guru dalam memberikan umpan balik pada siswa yaitu :

1. Realistik

2. Spesifik

3. Sensitif terhadap tujuan yang bersangkutan

4. Tepat waktu

5. Jelas

6. Tidak menghakimi

7. Tidak membanding membandingkan

8. Tekun

9. Terus terang

10. Positif

11. Hati–hati

Untuk dapat memaksimalkan peranannya guru dituntut memiliki profesional yang

tinggi. Ada lima hal yang harus dimiliki oleh guru agar dapat dikatakan profesional yaitu:

1. Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya

2. Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkannya pada siswa

3. Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi

4. Guru mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya

5. Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesi

Sebagai kesimpulan dari uraian yang diatas, setidaknya ada lima hal peranan dalam penilaian, yaitu guru sebagi mentor, petunjuk jalan, akuntan, reporter, dan direktur program. Kelima hal tersebut dikaitkan dengan tujuan penilaian dapat dielaborasi dalam seperti yang di rangkum pada Tabel 3.1

Tabel. 3.1.

Peranan Guru dan Tujuannya dalam penilaian

Peranan Tujuan
Guru sebagai monitoring Memberikan umpan balik dan bantuan kepada setiap siswa
Guru sebagai petunjuk jalan Mengumpulkan informasi untuk diagnostik kelompok siswa melalui pekerjaan yang telah dikerjakan.
Guru sebagai akuntan Memperbaiki dan memelihara catatan prestasi dan kemajuan siswa
Guru sebagai reporter Melaporkan pada orang tua, siswa, dan pengurus sekolah tentang prestasi dan kemajuan siswa
Guru sebagai direktur program Membuat keputusan dan revisi praktik pengajaran

2. Peranan Siswa

Keikutsertaan siswa di dalam proses penilaian menjadi penting apabila standar yang digunakan biasa diwujudkan untuk semua siswa. Brown (1994) menekankan unsur strategis agar senantiasa sadar akan kekuatan dan kelemahan dengan mengatakan bahwa “para siswa berhasil menjalankan yang terbaik apabila mereka memiliki pemahaman yang mendalam akan kelebihan dan kelemahan mereka sendiri dan akses dalam menyusun strategi untuk belajar”.

Mengambil bagian dalam penilaian berarti memberikan peluang kepada para siswa untuk merefleksikan apa yang mereka pelajari dengan membuat rangkaian yang jelas dalam isi dan pikiran. Sehingga diharapkan mereka menemukan sendiri kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam menetapkan tahapan belajar selanjutnya yang lebih baik.

Dalam suatu percobaan di dua kelas ilmu sains suatu sekolah menengah di Amerika, White dan Frederiksen (1998) melaporkan bahwa terjadi peningkatan prestasi siswa dalam kelas, dimana dikembangkan kemampuan berpikir melalui penilaian diri. Penilaian diri merupakan sarana bagi guru untuk memberikan tanggung jawab kepada siswa untuk belajar dari apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang akan mereka kerjakan.

Rudd dan Gunstone (1993) mengidentifikasi beberapa keuntungan yang diperoleh dengan perlibatan siswa dalam proses penilaian diri yaitu:

  • · Mengembangkan kemampuan siswa untuk merencanakan dan berpikir menyeluruh menyangkut hasil dan ketrampilan mereka
  • · Menciptakan kesadaran siswa akan pentingnya menilai pekerjaan mereka sendiri
  • · Mengembangkan kemampuan siswa untuk saling mengevaluasi penilaian diri satu sama lain asalkan kritik membangun
  • · Mengembangkan kemampuan siswa dalam mengatur sumber daya dan waktu secara lebih efektif.

3. Peranan sekolah

Sekolah merupakan pusat kegiatan belajar-mengajar dalam proses pendidikan. Baik buruknya kualitas pendidikan dapat dilihat dari tingkat kualitas sekolah. Sekolah merupakan induk kegiatan pembelajaran yang secara otomatis merupakan induk kegiatan penilaian.

Sekolah sebagai suatu institusi yang menaungi semua aktivitas belajar-mengajar, memiliki peranan yang sangat besar dalam upaya melakukan reformasi penilaian, yang memihak pada bagaimana para siswa dapat memperoleh nilai tambah dalam proses pendidikan.

Peran sekolah menciptakan suatu kondisi (kultur) yang kondusif sehingga kegiatan penilaian dapat berjalan sesuai dengan fungsi dan tujuannya.

Peranan sekolah dalam upaya membentuk siswa menjadi manusia yang berkualitas melalui penilaian digambarkan secara gambling oleh Stenberg, (1996), yang mengatakan:

…sekolah mempengaruhi intelegensi dengan beberapa cara, yang paling terkenal yaitu dengan penyampaian informasi…

Sejalan dengan pendapat Stenberg tersebut, Wedeen Winter, dan Broadfoot, (2002), melaporkan bahwa sekolah merupakan tempat dimana para siswa diarahkan agar dapat meningkatkan kualitas belajar mereka, dengan mengatakan: “mempromosikan pembelajaran anak-anak merupakan tujuan utama sekolah. Penilaian merupakan jantung dari proses tersebut. Proses tersebut dapat menyediakan lingkup kerja dimana tujuan pendidikan dapat dibentuk dan kemudian para murid dapat ditabelkan dan dinyatakan. Hasil pemantauan tersebut dapat menghasilkan suatu dasar untuk merencanakan langkah selanjutnya dalam merespon kebutuhan anak-anak. Hal tersebut menjada satu-kesatuan dari proses pendidikan, secara terus menerus menyediakan ‘feedback and feed foorward’. Oleh karena itu, hal tersebut perlu disatukan secara sistematis dengan strategi dan praktik mengajar pada semua tingkat”.

B. Siswa Menjadi Pembelajar Yang Lebih Baik

Dukungan sekolah dan para guru untuk lebih memihak pada kebutuhan siswa dari pada untuk memenuhi target kurikulum akan membawa dampak pada perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran. Guru tidak lagi terburu-buru dengan target harus selesai tepat pada waktunya tanpa memperhatikan apakan siswa telah paham atau belum.

Guru lebih fokus bagaimana penilaian yang mereka terapkan dapat mengungkap permasalahan-permasalahan nyata yang dihadapi siswa mereka, dan menggunakan informasi tersebut untuk membantu para siswa menjadi pembelajar yang lebih baik. Siswa akan merasa tertantang dan termotivasi untuk terus memperbaiki diri, baik memperbaiki cara dan strategi belajar maupun dalam kaitan dengan perilaku, harapan dan cita-cita mereka.

C. Penilaian dan Motivasi Belajar Siswa

Motivasi tingkat individu, terdapat komponen penting dari belajar dan penting bagi para guru untuk memahami motivasi para murid yang terkait dengan penilaian, harga diri dan umpan balik. Black, (1998), mengutip penelitian Sylva (1994) bahwa anak-anak pada dasarnya tergolong ke dalam dua kategori, yaitu:

1. Anak yang cakap

2. Anak yang kurang cakap

Karakteristik anak yang cakap, yaitu:

– Termotivasi oleh keinginan untuk belajar

– Menghadapi tugas yang sulit dengan cara yang fleksibel dan reflektif

– Percaya akan berhasil, percaya bahwa mereka dapat melakukannya jika mereka berusaha

– Percaya bahwa kecerdasan dapat ditingkatkan

– Jika melihat anak lain bekerja keras, mereka tertarik.

Karakteristik anak yang kurang cakap yaitu:

– Memiliki motivasi yang biasa-biasa saja

– Tampaknya menerima bahwa mereka akan gagal karena mereka tidak cukup cerdas

– Percaya bahwa jika sesuatu akan terlalu sulit, tak ada yang bias mereka lakukan

– Cenderung menghindari tantangan

– Tidak percaya mereka dapat meningkatkan kecerdasan mereka.

Sedangkan pendapat yang menguatkan hasil pendapat Sylva tersebut, namun kontek yang berbeda adalah muncul dari Collin Rogers (1994), menyebutkan bahwa para pelajar dapat digolongkan dalam tiga jenis motivasi, yaitu:

1. Murid yang berorientasi “penguasaan” secara intrinsik tertarik untuk “tahu” akan termotivasi untuk belajar dan akan mengembangkan strategi-strategi yang membantu mereka untuk melakukan hal tersebut

2. Murid yang berorientasi “kinerja”

Murid yang berorientasi kinerja peduli dengan tugas dan lebih peduli dengan tampak baik-baik saja, jadi meningkatkan harga diri mereka. Hal ini dapat mengurangi motivasi mereka dalam keadaan tertentu dan karena itulah mereka tidak ingin terlihat gagal.

3. Keputusan yang dipelajari

D. Reformasi dalam Penilaian

Untuk dapat melakukan pembelajaran yang mengutamakan mendidik daripada mengajar yang hanya sekedar mengejar target kurikulum maka sistem penilaian yang sekarang dipraktikan perlu kiranya untuk diubah, yaitu orientasi penilaian bukan hanua sekedar membeli label nilai 10, 9, 8, atau lulus, tidak lulus, naik kelas, tinggal kelas dan sebagainya, tetapi lebih pada pengumpulan informasi yang berkaitan dengan misalnya kenapa siswa memperoleh nilai 5? Kenapa siswa malas belajar? Kenapa siswa tidak lulus? Kemudian informasi tersebut harus digunakan dan dimanfaatkan untuk memodifikasi strategi dan teknik pengajaran sesuai dangan kebutuhan nyata dari para siswa.

manusia di dunia maya

dunia kadang berubah… terkadang sesuatu itu terjadi tanpa keadaaan yang di dinginkan…………..

Dunia mempunyai keadaan yang berbeda,,, setiap tahun selalu keadaan itu berubah,,,, terkadang keadaan yang memungkinkan untuk terjadi tidak terjadi dan sebaliknya keadaan yang tidak disangka-sangka akan terjadi kenyataannya terjadi……………….

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!