Konsep Dasar Assesmen Pembelajaran

A.        Pengertian Assesmen pembelajaran, evaluasi, pengukuran dan tes

1.        Pengertian Assesment

Asesmen merupakan penilaian  proses dan hasil belajar siswa serta kemajuan belajarnya.

Penilaian (assessment) dalam Akhmad Sudrajat (2008), adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut

Menurut Linn dan Gronlund, assessment adalah istilah umum yang melibatkan semua rangkaian prosedur yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang hasil belajar siswa atau peserta didik (misalnya: observasi, skala bertingkat tentang kinerja, tes tertulis) dan pelaksanan penilaian mengenai kemajuan belajar siswa (peserta didik).

Nana Sudjana (1989: 220), penilaian adalah proses untuk menentukan nilai dari suatu obyek atau peristiwa dalam suatu konteks situasi tertentu, dimana proses penentuan nilai berlangsung dalam bentuk interpretasi yang kemudian diakhiri dengan suatu “judgment“.

assessment merupakan istilah yang umum dan mencakup semua metode yang biasa dipakai untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa dengan cara menilai unjuk kerja individu peserta didik atau kelompok.

2.        Pengertian evaluasi

Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak berharga, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi juga dapat diartikan sebagai suatu proses penilaian untuk mengambil keputusan yang menggunakan seperangkat hasil pengukuran dan berpatokan kepada tujuan yang telah dirumuskan.

Untuk memperjelas pengertian evaluasi tersebut ada baiknya bila dikutip beberapa perumusan sebagai berikut:
a. Adams (1964) dalam bukunya “Measurement and evaluation in education, psychology, and guidance” menjelaskan bahwa kita mengukur berbagai kemampuan anak didik.Bila kita melangkah lebih jauh lagi dalam menginterprestasi skor sebagai hasil pengukuran itu dengan menggunakan standar tertentu untuk menentukan nilai dalam suatu kerangka maksud pendidikan dan pelatihannya atau atas dasar beberapa pertimbangan lain untuk membuat penilaian, maka kita tidak lagi membatasi diri kita dalam pengukuran, kita sekarang telah mengevaluasi kemampuan atau kemajuan anak didik.
b. Daniel L. Stufflebeam dan Anthony J. Shinkfield (1985) secara singkat merumuskan evaluasi sebagai berikut: “Evaluation is the systematic assessment of the worth or merit of some object”. Dengan demikian maka evaluasi antara lain merupakan kegiatan membandingkan tujuan dengan hasil dan juga merupakan studi yang mengkombinasikan penampilan dengan suatu nilai tertentu.
c. Robert L. Thorndike dan Elizabeth Hagen (1961) menjelaskan evaluasi tersebut dengan mengatakan bahwa evaluasi itu berhubungan dengan pengukuran. Dalam beberapa hal evaluasi lebih luas, karena dalam evaluasi juga termasuk penilaian formal dan penilaian intuitif mengenai kemajuan peserta didik. Evaluasi juga mencakup penilaian tentang apa yang baik dan apa yang diharapkan. Dengan demikian hasil pengukuran yang benar merupakan dasar yang kokoh untuk melakukan evaluasi.

Secara garis besar evaluasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif (istilah ini pertama kali digunakan oleh Scriven (1967) dalam artikelnya berjudul “The Methodology of evaluation”). Evaluasi formatif dilakukan dengan maksud memantau sejauh manakah suatu proses pendidikan telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Sedangkan evaluasi sumatif dilakukan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit pengajaran ke unit berikutnya.

Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai (value judgement). Stufflebeam (Abin Syamsuddin Makmun, 1996) mengemukakan bahwa: educational evaluation is the process of delineating, obtaining, and providing useful, information for judging decision alternatif . Dari pandangan Stufflebeam, kita dapat melihat bahwa esensi dari evaluasi yakni memberikan informasi bagi kepentingan pengambilan keputusan. Di bidang pendidikan, kita dapat melakukan evaluasi terhadap kurikulum baru, suatu kebijakan pendidikan, sumber belajar tertentu, atau etos kerja guru.

3.        Pengertian pengukuran

Tes dapat didefinisikan sebagai suatu pernyataan atau tugas atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang trait (sifat) atau atribut pendidikan atau psikologik yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar.

Tes dapat diklasifikasi berdasarkan :
a. Bagaimana ia diadministrasikan (tes individual atau kelompok)
b. Bagaimana ia diskor (tes obyektif atau tes subyektif)
c. Respon apa yang ditekankan (tes kecepatan atau tes kemampuan)
d. Tipe respon yang bagaimana yang harus dikerjakan oleh subyek (tes unjuk kerja atau tes kertas dan pensil)
e. Apa yang akan diukur (tes sampel atau tes sign)
f. Hakekat dari kelompok yang akan diperbandingkan (tes buatan guru atau tes baku)

Pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh diskripsi numeric dari suatu tingkatan dimana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.

Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dlam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.

Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil peserta didik atau ketercapain kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik.

Pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh diskripsi numeric dari suatu tingkatan dimana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.

Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dlam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.

Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil peserta didik atau ketercapain kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik.

4.        Pengertian tes

5.      Pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh diskripsi numeric dari suatu tingkatan dimana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.

6.      Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dlam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.

7.      Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil peserta didik atau ketercapain kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik.

8.      Pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh diskripsi numeric dari suatu tingkatan dimana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.

9.      Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dlam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.

10.  Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil peserta didik atau ketercapain kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik.

11.  Pengukuran adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh diskripsi numeric dari suatu tingkatan dimana seorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.

12.  Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dlam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.

13.  Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil peserta didik atau ketercapain kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik.

B.        Kaitan antara tes, pengukuran, penialaian dan assesmen

Sebenarnya proses pengukuran, penilaian, evaluasi dan pengujian merupakan suatu kegiatan atau proses yang bersifat hirarkis. Artinya kegiatan dilakukan secara berurutan dan berjenjang yaitu dimulai dari proses pengukuran kemudian penilaian dan terakhir evaluasi. Sedangkan proses pengujian merupakan bagian dari pengukuran yang dilanjutkan dengan kegiatan penilaian.
Ada beberapa alasan untuk menggunakan pengukuran, tes, dan evaluasi dalam pendidikan, antara lain :

a. Seleksi
Tes dan beberapa alat pengukuran digunakan untuk mengambil keputusan tentang orang yang akan diterima atau ditolak dalam suatu proses seleksi. Untuk dapat memutuskan penerimaan atau penolakan ini maka haruslah digunakan tes yang tepat, yaitu tes yang dapat meramalkan keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam suatu kegiatan tertentu pada masa yang akan datang dengan resiko yang terendah. Tes jenis ini sangat umum dalam masyarakat kita, karena hampir selalu terjadi peminat untuk pekerjaan atau pendidikan jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan. Dilihat dari segi ini, maka acapkali tes seleksi yang dilakukan hanya sekedar untuk memisahkan orang yang akan diterima dari orang yang akan ditolak. Bukan untuk memperoleh calon yang paling besar kemungkinan berhasil dalam pekerjaan atau program yang akan dilakukan.

b. Penempatan
Dalam kursus atau latihan yang singkat biasanya dilakukan tes penempatan, untuk menentukan tempat yang paling cocok bagi seseorang untuk dapat berprestasi dan berproduksi secara efisien dalam suatu proses pendidikan atau pekerjaan. Tes seperti ini terutama didasarkan pada informasi tentang apa yang telah dan apa yang belum dikuasai oleh seseorang.

c. Diagnosis dan remedial
Tes seperti ini terutama untuk mengukur kekuatan dan kelemahan seseorang dalam kerangka memperbaiki penguasaan atau kemampuan dalam suatu program pendidikan tertentu. Jadi sebelum dilakukan remedial, maka seharusnya didahului oleh suatu tes diagnosis.

d. Umpan balik
Hasil suatu pengukuran atau skor tes tertentu dapat digunakan sebagai umpan balik, baik bagi individu yang menempuh tes maupun bagi guru atau instruktur yang berusaha mentransfer kemampuan kepada peserta didik. Suatu skor tes dapat digunakan sebagai umpan balik, bila telah diinterpretasi. Setidak-tidaknya ada dua cara menginterpretasi skor tes, yaitu dengan membandingkan skor seseorang dengan kelompoknya dan dengan melihat kedudukan skor yang diperoleh seseorang dengan kriteria yang ditentukan sebelum tes dimulai. Untuk yang pertama dinamakan “norm reference test” dan yang kedua dinamakan “criterion reference test”.

e. Memotivasi dan membimbing belajar
Hasil tes seharusnya dapat memotivasi belajar peserta didik, dan juga dapat menjadi pembimbingan bagi mereka untuk belajar. Bagi mereka yang memperoleh skor yang rendah seharusnya menjadi cambuk untuk lebih berhasil dalam tes yang akan datang dan secara tepat dapat mengetahui diwilayah mana terletak kelemahannya. Dan bagi mereka yang mendapat skor yang tinggi tentu saja hasil itu dapat menjadi motivasi mempertahankan dan maningkatkan hasilnya, serta dapat menjadi pedoman dalam mempelajari bahan pengayaan.

f. Perbaikan kurikulum dan program pendidikan
Salah satu peran yang penting evaluasi pendidikan ialah mencari dasar yang kokoh bagi perbaikan kurikulum dan program pendidikan. Perbaikan kurikulum atau program pendidikan yang dilakukan tanpa hasil evaluasi yang sistematik acapkali menjadi usaha sia-sia yang mubajir.

g. Pengembangan ilmu
Hasil pengukuran, tes, dan evaluasi tentu saja akan dapat member sumbangan yang berarti bagi perkembangan teori dan dasar pendidikan. Ilmu seperti pengukuran pendidikan dan psikometrik sangat tergantung pada hasil-hasil pengukuran, tes, dan evaluasi yang dilakukan sebagai kegiatan sehari-hari guru dan pendidik. Dari hasil itu akan diperoleh pengetahuan emperik yang sangat berharga untuk pengembangan ilmu dan teori.

Secara umum orang hanya mengidentikkan kegiatan evaluasi sama dengan menilai, karena aktifitas mengukur sudah termasuk didalamnya. Pengukuran, penilaian dan evaluasi merupakan kegiatan yang bersifat hierarki. Artinya ketiga kegiatan tersebut dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan.

Konsep Evaluasi

Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983). Menurut Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai “The process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives”. Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan.

Evaluasi adalah kegiatan mengukur dan menilai. Mengukur lebih besifat kuantitatif, sedangkan menilai lebih bersifat kualitatif.

Viviane dan Gilbert de Lansheere (1984) menyatakan bahwa evaluasi adalah proses penentuan apakah materi dan metode pembelajaran telah sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Penentuannya bisa dilakukan salah satunya dengan cara pemberian tes kepada pembelajar. Terlihat disana bahwa acuan tes adalah tujuan pembelajaran.

Konsep Penilaian

Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.

Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai.

Konsep Pengukuran

Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga dapat diperluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti tingkat ketidakpastian, atau kepercayaan konsumen.

Pengukuran adalah proses pemberian angka-angka atau label kepada unit analisis untuk merepresentasikan atribut-atribut konsep. Proses ini seharusnya cukup dimengerti orang walau misalnya definisinya tidak dimengerti. Hal ini karena antara lain kita sering kali melakukan pengukuran.

C.         Tujuan dan peran assessment dalam pembelajaran

Tujuan utama penggunaan asesmen dalam pembelajaran (classroom assessment) adalah membantu guru dan siswa dalam mengambil keputusan propesional untuk memperbaiki pembelajaran. Menurut Popham (1995:4-13) asesmen bertujuan untuk antara lain untuk:

(1) mendiagnosa kelebihan dan kelemahan siswa dalam belajar,
(2) memonitor kemajuan siswa,
(3) menentukan jenjang kemampuan siswa,
(4) menentukan efektivitas pembelajaran,
(5) mempengaruhi persepsi publik tentang efektivitas pembelajaran,
(6) mengevaluasi kinerja guru kelas,
(7) mengklarifikasi tujuan pembelajaran yang dirancang guru

Setiap penggunaan asesmen alternatif bentuk apapun dicirikan oleh hal-hal berikut: (1) menuntut siswa untuk merancang, membuat, menghasil-kan, mengunjukkan atau melakukan sesuatu;
(2) memberi peluang untuk terjadinya berpikir kompleks dan/atau memecahkan masalah;
(3) meng-gunakan kegiatan-kegiatan yang bermakna secara instruksional;
(4) menun-tut penerapan yang autentik pada dunia nyata;
(5) pensekoran lebih di-dasarkan pada pertimbangan manusia yang terlatih daripada mengandalkan mesin. Untuk memperoleh asesmen dengan standar tinggi, maka peng-gunaan asesmen harus: relevan dengan standar atau kebutuhan hasil belajar siswa; adil bagi semua siswa; akurat dalam pengukuran; berguna; layak dan dapat dipercaya. (Herman,1997:198)

Agar penggunaan asesmen dalam kelas sesuai dengan pembelajaran dan dapat meningkatkan pembelajaran tersebut Cottel (1991) menggagaskan 5 petujuk bagi guru penggunaan asesmen dalam kelas. Kelima petunjuk tersebut adalah: pertama, senantiasa menganggap bahwa pembelajaran terus berlangsung; kedua, selalu meminta siswa untuk menunjukkan bukti-bukti bagaimana mereka belajar; ketiga, memberi siswa umpan balik tentang re-spon kelas serta rencana pengajar tentang respon tersebut; keempat, melaku-kan penyesuaian-penyesuaian yang tepat untuk meningkatkan pembela-jaran; dan kelima, menilai ulang bagaimana penyesuaian-penyesuaian terse-but bekerja cukup baik.

Peranan assessment

1. Peran guru

Sebagian besar tanggung jawab dalam menerapkan standar penilaian terletak pada tangan guru yang menjadi pelaksana digaris depan. Oleh karena itu, guru perlu memahami dengan baik standar yang ada, memahami pentingnya penilaian yang berkelanjutan, dan perlu mengetahui posisi strategis mereka, sehingga guru mampu meningkatkan praktik penilaian dalam kelas, merencanakan kurikulum, mengembangkan potensi diri siswa, laporan kemajuan dan perkembangan siswa, dan memahami cara pengajaran mereka sendiri.

Peranan guru dalam penilaian lebih efektif jika mampu memanfaatkan informasi hasil penilaian melalui umpan balik. Umpan balik merupakan sarana bagi guru dan siswa untuk mengetahui sejauh mana kemajuan pembelajaran yang telah dilakukan. Seperti yang dikemukakan dalam QCA (2003) yang mengatakan bahwa feedback is the means by which teacher enable children to close the gap in order to take learning forward and improve children’s performance, berdasarkan definisi tersebut, tampak bahwa umpan balik merupakan suatu alat yang dapat digunakan oleh guru, yang memungkinkan siswa dapat belajar lebih baik dan meningkatkan kinerjanya.

Croks (2001) menyimpulkan dari hasil reviuw literatur tentang umpan balik dan hubungannya dengan motivasi siswa menyimpulkan bahwa manfaat umpan balik agar dapat memotivasi siswa, maka harus fokus pada:

a. Kualitas kerja anak-anak, dan bukan pada membandingkan dengan anak-anak lain.

b. Cara-cara spesifik dimana pekerjaan anak dapat ditingkatkan

c. Peningkatan pekerjaan anak harus dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya.

Dalam merencanakan dan memberikan umpan balik terhadap pekerjaan siswa, Clarke (2003) menyarankan 6 prinsip yaitu:

a. Umpan balik harus fokus pada tugas-tugas tujuan pembelajaran dan bukan membandingkan dengan anak yang lain.

b. Bahasa yang verbal dan non verbal dari guru, memberikan pesan yang baik pada anak tentang kemampuan mereka.

c. Penilaian setiap bagian pekerjaan mengarah pada penurunan moril bagi yang mencapai prestasi rendah dan kepuasan bagi prestasi yang tinggi.

d. Penghargaan eksternal sama seperti grades.

e. Perlu memberikan umpan balik spesifik yang fokus pada kesuksesan dan peningkatan dari pada mengoreksi.

f. Anak-anak perlu kesempatan untuk membuat peningkatan atas pekerjaan mereka.

Prinsip yang dikemukakan oleh Clarke tersebut, memberikan penekanan bahwa dalam memberikan umpan balik, seorang guru harus fokus pada kualitas pekerjaan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Di samping itu, guru perlu menghindari membandingkan siswa satu dengan yang lainnya, karena hal tersebut dapat menurunkan dorongan, motivasi, dan minat bagi siswa yang memperoleh nilai rendah.

Hargreaves, McCallum dan Gipps (Clarke, 2003) dalam penelitian tentang strategi yang digunakan oleh guru dalam memberikan umpan balik, menemukan dua strategi yaitu strategi approval dan disapproval. Strategi non-verbal untuk menyatakan approval meliputi guru mengangguk, kontak mata, tersenyum, tertawa, meletakan suatu lengan tangan di sekitar atau menepuk anak dan menerima suatu cara lembut untuk dapat dicapai. Sedangkan strategi non-verbal untuk menyatakan disapproval meliputi memalingkan muka, menatap dengan tajam, clicking, fingers or making disapproval noises.

Catatan akhir yang menekankan kompleksitas pemberian umpan balik didapatkan dari penelitian yang dikutip sebelumnya dalam buku ini, yang mendapati bahwa pemberian pujian saja tidak akan meningkatkan prestasi. Umpan balik yang efektif adalah yang ditujukan untuk meningkatkan prestasi, yang nantinya akan membantu rasa percaya diri. Upaya meningkatkan kepercayaan diri dan harapan bahwaini akan meningkatkan prestasi, tidak akan begitu berhasil.

Boud (1995), memberikan panduan bagi guru dalam memberikan umpan balik pada siswa yaitu :

1. Realistik

2. Spesifik

3. Sensitif terhadap tujuan yang bersangkutan

4. Tepat waktu

5. Jelas

6. Tidak menghakimi

7. Tidak membanding membandingkan

8. Tekun

9. Terus terang

10. Positif

11. Hati–hati

Untuk dapat memaksimalkan peranannya guru dituntut memiliki profesional yang

tinggi. Ada lima hal yang harus dimiliki oleh guru agar dapat dikatakan profesional yaitu:

1. Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya

2. Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkannya pada siswa

3. Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi

4. Guru mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya

5. Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesi

Sebagai kesimpulan dari uraian yang diatas, setidaknya ada lima hal peranan dalam penilaian, yaitu guru sebagi mentor, petunjuk jalan, akuntan, reporter, dan direktur program. Kelima hal tersebut dikaitkan dengan tujuan penilaian dapat dielaborasi dalam seperti yang di rangkum pada Tabel 3.1

Tabel. 3.1.

Peranan Guru dan Tujuannya dalam penilaian

Peranan Tujuan
Guru sebagai monitoring Memberikan umpan balik dan bantuan kepada setiap siswa
Guru sebagai petunjuk jalan Mengumpulkan informasi untuk diagnostik kelompok siswa melalui pekerjaan yang telah dikerjakan.
Guru sebagai akuntan Memperbaiki dan memelihara catatan prestasi dan kemajuan siswa
Guru sebagai reporter Melaporkan pada orang tua, siswa, dan pengurus sekolah tentang prestasi dan kemajuan siswa
Guru sebagai direktur program Membuat keputusan dan revisi praktik pengajaran

2. Peranan Siswa

Keikutsertaan siswa di dalam proses penilaian menjadi penting apabila standar yang digunakan biasa diwujudkan untuk semua siswa. Brown (1994) menekankan unsur strategis agar senantiasa sadar akan kekuatan dan kelemahan dengan mengatakan bahwa “para siswa berhasil menjalankan yang terbaik apabila mereka memiliki pemahaman yang mendalam akan kelebihan dan kelemahan mereka sendiri dan akses dalam menyusun strategi untuk belajar”.

Mengambil bagian dalam penilaian berarti memberikan peluang kepada para siswa untuk merefleksikan apa yang mereka pelajari dengan membuat rangkaian yang jelas dalam isi dan pikiran. Sehingga diharapkan mereka menemukan sendiri kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam menetapkan tahapan belajar selanjutnya yang lebih baik.

Dalam suatu percobaan di dua kelas ilmu sains suatu sekolah menengah di Amerika, White dan Frederiksen (1998) melaporkan bahwa terjadi peningkatan prestasi siswa dalam kelas, dimana dikembangkan kemampuan berpikir melalui penilaian diri. Penilaian diri merupakan sarana bagi guru untuk memberikan tanggung jawab kepada siswa untuk belajar dari apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang akan mereka kerjakan.

Rudd dan Gunstone (1993) mengidentifikasi beberapa keuntungan yang diperoleh dengan perlibatan siswa dalam proses penilaian diri yaitu:

  • · Mengembangkan kemampuan siswa untuk merencanakan dan berpikir menyeluruh menyangkut hasil dan ketrampilan mereka
  • · Menciptakan kesadaran siswa akan pentingnya menilai pekerjaan mereka sendiri
  • · Mengembangkan kemampuan siswa untuk saling mengevaluasi penilaian diri satu sama lain asalkan kritik membangun
  • · Mengembangkan kemampuan siswa dalam mengatur sumber daya dan waktu secara lebih efektif.

3. Peranan sekolah

Sekolah merupakan pusat kegiatan belajar-mengajar dalam proses pendidikan. Baik buruknya kualitas pendidikan dapat dilihat dari tingkat kualitas sekolah. Sekolah merupakan induk kegiatan pembelajaran yang secara otomatis merupakan induk kegiatan penilaian.

Sekolah sebagai suatu institusi yang menaungi semua aktivitas belajar-mengajar, memiliki peranan yang sangat besar dalam upaya melakukan reformasi penilaian, yang memihak pada bagaimana para siswa dapat memperoleh nilai tambah dalam proses pendidikan.

Peran sekolah menciptakan suatu kondisi (kultur) yang kondusif sehingga kegiatan penilaian dapat berjalan sesuai dengan fungsi dan tujuannya.

Peranan sekolah dalam upaya membentuk siswa menjadi manusia yang berkualitas melalui penilaian digambarkan secara gambling oleh Stenberg, (1996), yang mengatakan:

…sekolah mempengaruhi intelegensi dengan beberapa cara, yang paling terkenal yaitu dengan penyampaian informasi…

Sejalan dengan pendapat Stenberg tersebut, Wedeen Winter, dan Broadfoot, (2002), melaporkan bahwa sekolah merupakan tempat dimana para siswa diarahkan agar dapat meningkatkan kualitas belajar mereka, dengan mengatakan: “mempromosikan pembelajaran anak-anak merupakan tujuan utama sekolah. Penilaian merupakan jantung dari proses tersebut. Proses tersebut dapat menyediakan lingkup kerja dimana tujuan pendidikan dapat dibentuk dan kemudian para murid dapat ditabelkan dan dinyatakan. Hasil pemantauan tersebut dapat menghasilkan suatu dasar untuk merencanakan langkah selanjutnya dalam merespon kebutuhan anak-anak. Hal tersebut menjada satu-kesatuan dari proses pendidikan, secara terus menerus menyediakan ‘feedback and feed foorward’. Oleh karena itu, hal tersebut perlu disatukan secara sistematis dengan strategi dan praktik mengajar pada semua tingkat”

D.        Hubungan penilaian dengan pembelajaran

Penilaian memilki peran yang sangat penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran, oleh karena itu perlu dirancang dan didesain sedemikian rupa sehingga penilain tersebut memberikan makna bagi setiap orang yang terlibat didalamnya. Setidaknya ada 3 hal yang perlu diperhatikan sehingga penilaian menjadi bermakna yaitu ketika penilaian:

1. Memilki ciri secara signifikan

2. Memilki kriteria, prosedur, dan rubrik yang jelas dan dipahami oleh semua pemangku kepentingan (stakeholder)

3. Memberikan hasil-hasil yang menyediakan arah/ petunjuk yang jelas untuk peningkatan kualitas pengajaran dan belajar.

A. Perlunya Standar Penilaian

Dapatkah penilaian meningkatkan standar? Jawaban singkat dari pertanyaan ini adalah ya, dapat. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara signifikan menggunakan penilaian untuk belajar (assessment for learning) lebih efektif bagi guru dalam memperbaiki kualitas pembelajaran. Penilaian juga harus berperan sebagai suatu sarana untuk meningkatkan kualitas belajar setiap siswa. Adapun suatu kejelasan dan hubungan tak terpisahkan antara penilaian, kurikulum, dan pembelajaran.

Darling Hammond (1994) berpendapat bahwa usaha untuk menaikan standar pelajaran dan prestasi harus bertolak pada perubahan strategi penilaian. Kemudian pernyataan tersebut diperkuat kembali oleh Wedeen, Winter, dan Broad Fott (2002) bahwa penggunaan penilaian dalam pembelajaran secara signifikan lebih efektif bagi guru dalam memperbaikai kualitas pembelajaran.

Agar penilaian berfungsi dengan baik, maka sangat perlu untuk meletakan standar, yang akan menjadi dasar dan pijakan bagi guru dan praktisi pendidikan dalam melakukan kegiatan penilaian. Oleh karena itu, ada beberapa pihak yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan kegiatan ini, yaitu:

1. Peran guru

Sebagian besar tanggung jawab dalam menerapkan standar penilaian terletak pada tangan guru yang menjadi pelaksana digaris depan. Oleh karena itu, guru perlu memahami dengan baik standar yang ada, memahami pentingnya penilaian yang berkelanjutan, dan perlu mengetahui posisi strategis mereka, sehingga guru mampu meningkatkan praktik penilaian dalam kelas, merencanakan kurikulum, mengembangkan potensi diri siswa, laporan kemajuan dan perkembangan siswa, dan memahami cara pengajaran mereka sendiri.

Peranan guru dalam penilaian lebih efektif jika mampu memanfaatkan informasi hasil penilaian melalui umpan balik. Umpan balik merupakan sarana bagi guru dan siswa untuk mengetahui sejauh mana kemajuan pembelajaran yang telah dilakukan. Seperti yang dikemukakan dalam QCA (2003) yang mengatakan bahwa feedback is the means by which teacher enable children to close the gap in order to take learning forward and improve children’s performance, berdasarkan definisi tersebut, tampak bahwa umpan balik merupakan suatu alat yang dapat digunakan oleh guru, yang memungkinkan siswa dapat belajar lebih baik dan meningkatkan kinerjanya.

Croks (2001) menyimpulkan dari hasil reviuw literatur tentang umpan balik dan hubungannya dengan motivasi siswa menyimpulkan bahwa manfaat umpan balik agar dapat memotivasi siswa, maka harus fokus pada:

a. Kualitas kerja anak-anak, dan bukan pada membandingkan dengan anak-anak lain.

b. Cara-cara spesifik dimana pekerjaan anak dapat ditingkatkan

c. Peningkatan pekerjaan anak harus dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya.

Dalam merencanakan dan memberikan umpan balik terhadap pekerjaan siswa, Clarke (2003) menyarankan 6 prinsip yaitu:

a. Umpan balik harus fokus pada tugas-tugas tujuan pembelajaran dan bukan membandingkan dengan anak yang lain.

b. Bahasa yang verbal dan non verbal dari guru, memberikan pesan yang baik pada anak tentang kemampuan mereka.

c. Penilaian setiap bagian pekerjaan mengarah pada penurunan moril bagi yang mencapai prestasi rendah dan kepuasan bagi prestasi yang tinggi.

d. Penghargaan eksternal sama seperti grades.

e. Perlu memberikan umpan balik spesifik yang fokus pada kesuksesan dan peningkatan dari pada mengoreksi.

f. Anak-anak perlu kesempatan untuk membuat peningkatan atas pekerjaan mereka.

Prinsip yang dikemukakan oleh Clarke tersebut, memberikan penekanan bahwa dalam memberikan umpan balik, seorang guru harus fokus pada kualitas pekerjaan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Di samping itu, guru perlu menghindari membandingkan siswa satu dengan yang lainnya, karena hal tersebut dapat menurunkan dorongan, motivasi, dan minat bagi siswa yang memperoleh nilai rendah.

Hargreaves, McCallum dan Gipps (Clarke, 2003) dalam penelitian tentang strategi yang digunakan oleh guru dalam memberikan umpan balik, menemukan dua strategi yaitu strategi approval dan disapproval. Strategi non-verbal untuk menyatakan approval meliputi guru mengangguk, kontak mata, tersenyum, tertawa, meletakan suatu lengan tangan di sekitar atau menepuk anak dan menerima suatu cara lembut untuk dapat dicapai. Sedangkan strategi non-verbal untuk menyatakan disapproval meliputi memalingkan muka, menatap dengan tajam, clicking, fingers or making disapproval noises.

Catatan akhir yang menekankan kompleksitas pemberian umpan balik didapatkan dari penelitian yang dikutip sebelumnya dalam buku ini, yang mendapati bahwa pemberian pujian saja tidak akan meningkatkan prestasi. Umpan balik yang efektif adalah yang ditujukan untuk meningkatkan prestasi, yang nantinya akan membantu rasa percaya diri. Upaya meningkatkan kepercayaan diri dan harapan bahwaini akan meningkatkan prestasi, tidak akan begitu berhasil.

Boud (1995), memberikan panduan bagi guru dalam memberikan umpan balik pada siswa yaitu :

1. Realistik

2. Spesifik

3. Sensitif terhadap tujuan yang bersangkutan

4. Tepat waktu

5. Jelas

6. Tidak menghakimi

7. Tidak membanding membandingkan

8. Tekun

9. Terus terang

10. Positif

11. Hati–hati

Untuk dapat memaksimalkan peranannya guru dituntut memiliki profesional yang

tinggi. Ada lima hal yang harus dimiliki oleh guru agar dapat dikatakan profesional yaitu:

1. Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya

2. Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkannya pada siswa

3. Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi

4. Guru mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya

5. Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesi

Sebagai kesimpulan dari uraian yang diatas, setidaknya ada lima hal peranan dalam penilaian, yaitu guru sebagi mentor, petunjuk jalan, akuntan, reporter, dan direktur program. Kelima hal tersebut dikaitkan dengan tujuan penilaian dapat dielaborasi dalam seperti yang di rangkum pada Tabel 3.1

Tabel. 3.1.

Peranan Guru dan Tujuannya dalam penilaian

Peranan Tujuan
Guru sebagai monitoring Memberikan umpan balik dan bantuan kepada setiap siswa
Guru sebagai petunjuk jalan Mengumpulkan informasi untuk diagnostik kelompok siswa melalui pekerjaan yang telah dikerjakan.
Guru sebagai akuntan Memperbaiki dan memelihara catatan prestasi dan kemajuan siswa
Guru sebagai reporter Melaporkan pada orang tua, siswa, dan pengurus sekolah tentang prestasi dan kemajuan siswa
Guru sebagai direktur program Membuat keputusan dan revisi praktik pengajaran

2. Peranan Siswa

Keikutsertaan siswa di dalam proses penilaian menjadi penting apabila standar yang digunakan biasa diwujudkan untuk semua siswa. Brown (1994) menekankan unsur strategis agar senantiasa sadar akan kekuatan dan kelemahan dengan mengatakan bahwa “para siswa berhasil menjalankan yang terbaik apabila mereka memiliki pemahaman yang mendalam akan kelebihan dan kelemahan mereka sendiri dan akses dalam menyusun strategi untuk belajar”.

Mengambil bagian dalam penilaian berarti memberikan peluang kepada para siswa untuk merefleksikan apa yang mereka pelajari dengan membuat rangkaian yang jelas dalam isi dan pikiran. Sehingga diharapkan mereka menemukan sendiri kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam menetapkan tahapan belajar selanjutnya yang lebih baik.

Dalam suatu percobaan di dua kelas ilmu sains suatu sekolah menengah di Amerika, White dan Frederiksen (1998) melaporkan bahwa terjadi peningkatan prestasi siswa dalam kelas, dimana dikembangkan kemampuan berpikir melalui penilaian diri. Penilaian diri merupakan sarana bagi guru untuk memberikan tanggung jawab kepada siswa untuk belajar dari apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang akan mereka kerjakan.

Rudd dan Gunstone (1993) mengidentifikasi beberapa keuntungan yang diperoleh dengan perlibatan siswa dalam proses penilaian diri yaitu:

  • · Mengembangkan kemampuan siswa untuk merencanakan dan berpikir menyeluruh menyangkut hasil dan ketrampilan mereka
  • · Menciptakan kesadaran siswa akan pentingnya menilai pekerjaan mereka sendiri
  • · Mengembangkan kemampuan siswa untuk saling mengevaluasi penilaian diri satu sama lain asalkan kritik membangun
  • · Mengembangkan kemampuan siswa dalam mengatur sumber daya dan waktu secara lebih efektif.

3. Peranan sekolah

Sekolah merupakan pusat kegiatan belajar-mengajar dalam proses pendidikan. Baik buruknya kualitas pendidikan dapat dilihat dari tingkat kualitas sekolah. Sekolah merupakan induk kegiatan pembelajaran yang secara otomatis merupakan induk kegiatan penilaian.

Sekolah sebagai suatu institusi yang menaungi semua aktivitas belajar-mengajar, memiliki peranan yang sangat besar dalam upaya melakukan reformasi penilaian, yang memihak pada bagaimana para siswa dapat memperoleh nilai tambah dalam proses pendidikan.

Peran sekolah menciptakan suatu kondisi (kultur) yang kondusif sehingga kegiatan penilaian dapat berjalan sesuai dengan fungsi dan tujuannya.

Peranan sekolah dalam upaya membentuk siswa menjadi manusia yang berkualitas melalui penilaian digambarkan secara gambling oleh Stenberg, (1996), yang mengatakan:

…sekolah mempengaruhi intelegensi dengan beberapa cara, yang paling terkenal yaitu dengan penyampaian informasi…

Sejalan dengan pendapat Stenberg tersebut, Wedeen Winter, dan Broadfoot, (2002), melaporkan bahwa sekolah merupakan tempat dimana para siswa diarahkan agar dapat meningkatkan kualitas belajar mereka, dengan mengatakan: “mempromosikan pembelajaran anak-anak merupakan tujuan utama sekolah. Penilaian merupakan jantung dari proses tersebut. Proses tersebut dapat menyediakan lingkup kerja dimana tujuan pendidikan dapat dibentuk dan kemudian para murid dapat ditabelkan dan dinyatakan. Hasil pemantauan tersebut dapat menghasilkan suatu dasar untuk merencanakan langkah selanjutnya dalam merespon kebutuhan anak-anak. Hal tersebut menjada satu-kesatuan dari proses pendidikan, secara terus menerus menyediakan ‘feedback and feed foorward’. Oleh karena itu, hal tersebut perlu disatukan secara sistematis dengan strategi dan praktik mengajar pada semua tingkat”.

B. Siswa Menjadi Pembelajar Yang Lebih Baik

Dukungan sekolah dan para guru untuk lebih memihak pada kebutuhan siswa dari pada untuk memenuhi target kurikulum akan membawa dampak pada perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran. Guru tidak lagi terburu-buru dengan target harus selesai tepat pada waktunya tanpa memperhatikan apakan siswa telah paham atau belum.

Guru lebih fokus bagaimana penilaian yang mereka terapkan dapat mengungkap permasalahan-permasalahan nyata yang dihadapi siswa mereka, dan menggunakan informasi tersebut untuk membantu para siswa menjadi pembelajar yang lebih baik. Siswa akan merasa tertantang dan termotivasi untuk terus memperbaiki diri, baik memperbaiki cara dan strategi belajar maupun dalam kaitan dengan perilaku, harapan dan cita-cita mereka.

C. Penilaian dan Motivasi Belajar Siswa

Motivasi tingkat individu, terdapat komponen penting dari belajar dan penting bagi para guru untuk memahami motivasi para murid yang terkait dengan penilaian, harga diri dan umpan balik. Black, (1998), mengutip penelitian Sylva (1994) bahwa anak-anak pada dasarnya tergolong ke dalam dua kategori, yaitu:

1. Anak yang cakap

2. Anak yang kurang cakap

Karakteristik anak yang cakap, yaitu:

– Termotivasi oleh keinginan untuk belajar

– Menghadapi tugas yang sulit dengan cara yang fleksibel dan reflektif

– Percaya akan berhasil, percaya bahwa mereka dapat melakukannya jika mereka berusaha

– Percaya bahwa kecerdasan dapat ditingkatkan

– Jika melihat anak lain bekerja keras, mereka tertarik.

Karakteristik anak yang kurang cakap yaitu:

– Memiliki motivasi yang biasa-biasa saja

– Tampaknya menerima bahwa mereka akan gagal karena mereka tidak cukup cerdas

– Percaya bahwa jika sesuatu akan terlalu sulit, tak ada yang bias mereka lakukan

– Cenderung menghindari tantangan

– Tidak percaya mereka dapat meningkatkan kecerdasan mereka.

Sedangkan pendapat yang menguatkan hasil pendapat Sylva tersebut, namun kontek yang berbeda adalah muncul dari Collin Rogers (1994), menyebutkan bahwa para pelajar dapat digolongkan dalam tiga jenis motivasi, yaitu:

1. Murid yang berorientasi “penguasaan” secara intrinsik tertarik untuk “tahu” akan termotivasi untuk belajar dan akan mengembangkan strategi-strategi yang membantu mereka untuk melakukan hal tersebut

2. Murid yang berorientasi “kinerja”

Murid yang berorientasi kinerja peduli dengan tugas dan lebih peduli dengan tampak baik-baik saja, jadi meningkatkan harga diri mereka. Hal ini dapat mengurangi motivasi mereka dalam keadaan tertentu dan karena itulah mereka tidak ingin terlihat gagal.

3. Keputusan yang dipelajari

D. Reformasi dalam Penilaian

Untuk dapat melakukan pembelajaran yang mengutamakan mendidik daripada mengajar yang hanya sekedar mengejar target kurikulum maka sistem penilaian yang sekarang dipraktikan perlu kiranya untuk diubah, yaitu orientasi penilaian bukan hanua sekedar membeli label nilai 10, 9, 8, atau lulus, tidak lulus, naik kelas, tinggal kelas dan sebagainya, tetapi lebih pada pengumpulan informasi yang berkaitan dengan misalnya kenapa siswa memperoleh nilai 5? Kenapa siswa malas belajar? Kenapa siswa tidak lulus? Kemudian informasi tersebut harus digunakan dan dimanfaatkan untuk memodifikasi strategi dan teknik pengajaran sesuai dangan kebutuhan nyata dari para siswa.